RSS

Syukur

Wednesday, September 12, 2007

"Assalamu alaikum warohmatullahi wabarokatuuh...", terdengar ucapan salam suamiku dari beranda depan.
"Wa alaikum salam warohmatullahi wabarokatuuh", ku jawab salamnya dengan penuh lega.
Segera kusambut suamiku dengan senyum manis sembari membantu membawakan tas birunya yang lumayan berat. Sedari dua jam yang lalu, sudah kutunggu-tunggu kepulangannya. Padahal ini sudah seperti kebiasaan suamiku yang selalu pulang terlambat.
"Sudah makan Mas?", sergahku sambil tergopoh-gopoh membawakan tas birunya.
"Belum..", jawabnya singkat, terlihat kesan lelah di wajahnya yang putih bersinar. Rasanya tidak bosan-bosannya kupandang wajah suamiku yang telah menikahiku lima tahun yang lalu.
"Lah kok bisa belum makan?, tidak beli makanan di jalan?", tanyaku penuh khawatir.
"Lebih enak masakan istri tersayang dong", begitu jawabnya seraya mencubit hidungku yang tidak terlalu mancung.
"Aduhh Masku satu ini, masak ngga makan seharian?, kutimpali sambil menahan nafas karena pencetan di hidungku.
"Makan roti sedikit beli di warung, tapi belum makan berat, jadinya sekarang lapar sekali".
"Ganti baju dulu dan kita langsung makan yuk Mas", pintaku.
Makanan di meja makan sudah siap sedari tadi untuk disantap. Tidak ada banyak macam makanan dan tidak mahal pula, hanya bakwan jagung dan sayur botok kesukaan suamiku. Sengaja kusiapkan makanan kesukaanya, rasanya sudah lama tidak memasak makanan seperti itu.
"Sejak jam berapa anak-anak tidur?", tanyanya sambil membetulkan sarungnya didepan kamar tidur.
"Fathimah jam sembilan, sedang yusuf dari jam delapan". Mas Arman memang tidak pernah lupa menanyakan jadwal tidur buah hati kami.
"Mmm", gumamnya sambil menuju ke kamar anak-anak untuk melihat buah hati kami yang tertidur lelap. Yusuf puteraku yan kedua baru berumur 20 bulan, mirip sekali wajahnya dengan suamiku. Sedang Fathimah puteri pertamaku sudah berumur 4.5 tahun, hanya hidungnya saja yang mirip denganku, sama tidak mancungnya, dan selebihnya mirip suamiku semuanya. "Ngga salah dong ia selalu menanyakan prototipenya.. he.he..", tawaku didalam hati.

"Kemana saja tadi Mas?", pertanyaan yang tak pernah bosan dan sering kutanyakan kepada suamiku setiap hari. "Biasalah", begitu jawabannya yang tak kalah seringnya. Memang suamiku tergolong orang yang tertutup. Sebenarnya aku tahu jadwal kerja di universitasnya yang hanya sampai jam lima sore. Suamiku adalah dosen teknik kimia di universitas swasta dan sudah menginjak tiga tahun, semenjak berhasil memperoleh gelar masternya di negeri jepang. Tapi bisa dikatakan aku hanya sedikit mengetahui kegiatan lain mas Arman selain menjadi dosen di universitas swasta.

"Dik, ayo kita tidur", ajak mas Arman. "Ehh.. Iya mas, jawabku gelagapan. Segera kubereskan meja makan dan membawa piring kotor ke dapur. Tak terasa waktu sudah menunjukkan jam dua belas malam, padahal rasanya kami baru saja bersantap malam dan sedikit berbincang-bincang. Ternyata waktu tidak mau diajak kompromi untuk sedikit memperlambat lajunya. Memang mas Arman sudah telat pulangnya, oleh karena itu waktunya semakin terasa sempit untuk berduaan ngobrol bersama.

"Oh iya Dik, besok Insya Allah Mas akan keluar kota sampai hari Minggu", kata mas Arman sambil berusaha menarik selimutnya.
"Yaaa.... tapi besok Sabtu kan kita mau jalan-jalan....", ku berusaha mengingatkan mas Arman.
"Maaf Dik.. urusan ini lebih penting dan mendadak pemberitahuannya, Mas ngga bisa menolak". "Insya Allah diganti minggu depan yah", suamiku berusaha menghiburku. Tapi aku tahu, minggu depan waktu mas Arman belum tentu kosong .
"Urusan apa Mas?", tanyaku.
"Biasalah..", jawaban mas Arman seperti biasa.
Dan aku pun tak bisa menanyakan lebih jauh, bila sudah keluar kata "Biasa"nya mas Arman. Akhirnya pikiranku pun menerawang jauh dan bertanya-tanya. Kapan Mas Arman punya waktu luang untuk anak dan istrinya. Aku berusaha berkelit bahwa anak-anak membutuhkan waktu dari mas Arman. Tetapi sebenarnya diriku juga membutuhkan waktu darinya. Sudah lima tahun pernikahan kami. Tetapi rasanya aku tidak merasakan cukup banyak waktu bersamanya. "Ya Allah sabarkan lah hambaMu ini yang penuh dengan hawa nafsu ini, dan bersihkanlah hati ini dari kecintaan dunia... Waktu kebersamaan kami, ku ikhlaskan kepadaMu, dengan hanya mengharapkan RidhoMu... Amin Ya Rabbal Alamin", kututup mataku sambil berdoa.

*****

"Bu.., Ayah mana?..", tanya Fathimah putri sulungku sembari masuk ke kamar tidurku..
"Ooo.. Ayah ada urusan penting hari ini sehingga harus pergi sampai hari minggu. Tadi pagi sebelum Fathimah bangun, Ayah sudah harus pergi. Ini ada titipan kecupan dari Ayah!, cuuppp!!??"
"Yaaa.... kok Fathimah tidak dibangunkan Bu???, kan Fathimah pingin ketemu Ayah.. Hari ini berarti kita tidak jadi pergi dongg Bu?", Fathimah terus merengek.
"Iya.. maaf yah Fathimah... Anak sholeh harus sabar.. Insya Allah nanti akan diganti di lain waktu ya....", jawabku untuk menenangkannya.
"Ayo Fathimah mandi dulu yah..., biar badan Fathimah jadi bersih dan wangi. Kebersihan adalah sebagian dari apa Fathimah?", tanyaku untuk mengingatkannya.
"Iman.....", jawab Fathimah hampir berteriak.
"Alhamdulillah.. benar sekali jawabanmu..... Fathimah memang anak pintar!!!", ku puji jawabannya. Lalu ku siapkan keperluan mandinya dan mengantarnya ke kamar mandi. Dan dalam waktu singkat, anakku sudah keluar dari kamar mandi.
"Sudah selesai mandinya Fathimah?" Ayukkk sini pakai bajunya, malu kan terlihat auratnya", segera kuhantar ke kamar tidurnya dan membantu mengeringkan badannya.
"Alhamdulillah cantiknya anak Ayah dan Ibu... wangi lagi", kucium keningnya dan Fathimah pun tak sabar keluar main di halaman rumah.

Tuuut... Tuuut... Tuuut... terdengar bunyi telepon di ruang tengah.
"Assalamu alaikum, di sini rumah keluarga Arman Suhandi".
"Wa alaikum salam, apakah Bapak Arman berada dirumah?", terdengar suara wanita dari kejauhan.
"Bapak sedang tidak ada di rumah, ini dari siapa yah?", tanya ku.
"Ini dari anak didiknya di kampus, ini dengan Ibu Arman?", tanyanya.
"Iya benar, ada pesan ?"
"Oh tidak ada Bu, biar nanti saya hubungi kembali, terima kasih Bu, wa salamu alaikum", teleponnya pun di tutup tanpa sempat ku menjawab salamnya.
Apa keperluan siswinya mas Arman?.. Hari libur begini ada urusan apa?.. Mengapa tergesa-gesa pula?..Apakah ada hubungannya dengan urusan penting mas Arman hari ini?... Hhmm..... aku menarik nafas sambil berusaha mengusir pikiran ku yang tidak-tidak. Aku baru teringat bahwa aku lupa menanyakan namanya. Seandainya ku tahu namanya, mungkin nanti aku bisa tanyakan ke mas Arman untuk lebih jelasnya. Yah... nanti akan aku tanyakan kepada mas Arman, jarang-jarang ada wanita yang menelepon ke rumah menanyakan suamiku, kecuali Ibu mertua ku atau kakak ipar perempuanku. Ahh... Mirna kamu jangan pikir yang bukan-bukan., kuberusaha mengalihkan pikiranku dengan bersiap-siap untuk memasak.

*****

"Duhhh panasnya hari ini", gumamku sambil mengusap keringatku. Padahal kipas angin sudah kunyalakan sedari tadi. Ternyata kurang cukup mengurangi keterikan matahari siang hari ini. Kusiapkan mesin jahit yang tersimpan di lemari. Hari ini aku akan menjahit baju Yusuf, baru saja selesai kubuat pola bajunya. Menjahit sangat membantuku mengisi waktu luang bila semua pekerjaan telah beres dan anak-anak sudah tertidur. Biasanya sambil menjahit kusambi dengan merenungi harapan ku terhadap pernikahanku yang telah berjalan lima tahun. Bisa dikatakan sudah tidak seharum lima tahu yang lalu. Dan waktu-waktu mas Arman tidak selonggar seperti di tahun-tahun pertama pernikahan kami. Apa yang paling kutakutkan adalah bila pernikahanku menjadi hambar. Dalam menghadapi rutinitas yang hampir-hampir saja mematikan komunikasi diantara kami, tentu dapat menimbulkan kebosanan. Dan ini yang paling menakutkan ku. Aku terus berusaha memperbaiki pelayanan terhadap suamiku. Ku cari variasi-variasi yang menyegarkan. Entah itu menu masakan ku, tata letak rumahku, penampilanku, penampilan anak-anak. Tapi satu hal yang paling sulit kami lakukan adalah jalan bersama keluarga. Waktu luang mas Arman tidak mengijinkan. Kalaupun ada sedikit waktu luang, digunakan mas Arman untuk istirahat di rumah. Rutinitas yang terus monoton, suatu saat dapat menimbulkan kebosananku, rasanya ingin sekali kami dapat berkumpul bersama dalam suasana yang lain dan menyegarkan. Akibatnya terkadang terselip pikiran yang bukan-bukan. Telepon kemaren hari mengingatkan ku, ku berusaha menepis supaya jangan sampai meracuniku kembali. Mana mungkin mas Arman berbuat yang tidak-tidak di belakang ku. Tapi memang tidak dapat kupungkiri, ada sedikit keresahanku terhadap kejadian kemaren hari. Lumrah bila aku merasa gelisah. Fithrah ku sebagai wanita, tentu tidak begitu saja mudah melupakan suara wanita yang menanyakan keberadaan suamiku.Adzan di masjid berkumandang menyadarkan ku. Astaghfirullah... pikiran ku melantur kemana-mana, tidak terasa sudah masuk waktu sholat ashar dan sebentar lagi anak-anak segera bangun dari tidur siangnya, berarti aku harus segera menyelesaikan pekerjaanku.

*****

"Dik, ayoo siapkan anak-anak, kita pergi ke puncak!", ucap suamiku setelah menyelesaikan bacaan Qur'annya
"Benar Mas?", tanyaku tidak percaya.
"Iya benar, Dik, mumpung masih jam enam, biar ngga kena macet, kita berangkat pagi-pagi!".
"Memang Mas tidak ada acara hari ini?", tanyaku heran.
"Ngga ada, Alhamdulillah.. agak longgar waktu Mas untuk pekan ini".
Rasanya aku bersyukur atas nikmat yang sudah kudambakan akhir-akhir ini. Kami dapat rihlah bersama keluarga untuk menyegarkan rutinitas yang mulai membosankan. Dan tanpa bertanya lagi, segera aku pergi ke dapur untuk menyiapkan bekal untuk perjalanan nanti. Alhamdulillah..... terima kasih ya Allah....

*****

"Wahhh enak sekali nasi timbel ini ya Bu", ucap suamiku di sela-sela kesibukannya melahap hidangan di restoran sekitar daerah cipanas. Memang dingin-dingin begini menambah kenikmatan nasi timbel yang kami makan hangat-hangat dengan sambal terasi, lalapan, ikan gurame goreng, ikan asin, sayur asam dan empal daging. Alhamdulillah nikmat sekali rasanya. Fathimah pun tak kalah lahapnya dan Yusuf dengan sigapnya membuka mulut setiap suapan yang aku berikan. Mungkin mereka kelaparan setelah seharian berlari-lari di taman cibodas bermain bola bersama mas Arman. Kami pun larut dalam acara makan bersama dengan tawa dan canda. Alhamdulillah ya Allah....

"Mas.... kok belok ke sini?", tanyaku keheranan.
"Mas ada keperluan, sebentar aja kok", suamiku membelokkan mobil kami ke jalan sempit. Di kanan kiri masih ditumbuhi rerumputan dan pohon-pohon pisang liar. Sekitar lima belas menit kemudian, terlihat sebuah perumahan sederhana dengan penduduk yang sederhana pula. Dan mas Arman menurunkan kaca mobilnya.
"Assalamu alaikum", ucapnya terhadap sekumpulan anak muda yang sedang berkumpul di depan sebuah bangunan yang terlihat belum selesai pembangunannya.
"Wa alaikum salam Pak Arman", jawab mereka serempak.
"Wahhh ini keluarga Bapak?...", tanya salah seorang pemuda.
"Iya.. saya sengaja membawanya ke sini, ini istri saya dan dua anak saya".
"Assalamu alaikum", teriak Fathimah puteri kami.
"Wa alaikum salam, duhh pintar sekali puteri Bapak?, seperti ayahnya".
"Bagaimana dengan persiapan untuk acara syukuran dan peresmian besok?, sudah beres?.."
"Alhamdulillah.... sudah selesai Pak Arman".
"Semoga besok dapat segera diresmikan, supaya kalian dapat belajar dengan tenang".
"Iya Pak.... semoga acaranya berjalan dengan lancar..".
Aku menjadi bingung melihat hal ini. "Mas, tolong jelaskan, Ibu benar-benar bingung!??"
Mas Arman tersenyum, "Ini loh Bu, proyek Ayah selama tiga tahun ini".
"Pimpinan di universitas Ayah, mengamanahi untuk mendirikan sekolah di sekitar sini. Ayah yang bertanggung jawab atas pendirian sekolah untuk anak yang kurang mampu dan ternyata hampir semua anak yang putus sekolah tinggal di sekitar sini. Sayang jika mereka harus putus sekolah, karena dapat dikatakan pola pikir mereka masih bersih, maka alangkah baiknya jika ditambah dengan pola pikir yang islami. Nahhh, sekolah ini selain mengajarkan ilmu pengetahuan umum, juga menambahkan wawasan berpikir yang islami"
"Assalamu alaikum Pak dan Ibu Arman", tiba-tiba pembicaraan kami terputus oleh suara wanita yang rasanya kukenal.
"Wa alaikum salam", jawab kami berdua.
"Bu, ini Ummu Hafidz, dia mantan siswi di universitas Ayah dan sekarang bersama keluarganya pindah kesini untuk membantu operasional sekolah ini".
"Panggil saja Rima Bu, maaf karena saya pernah menelepon ke rumah Ibu dengan tergesa-gesa, kebetulan ada keperluan mendadak dengan Bapak, tapi Alhamdulillah ngga lama setelah saya telepon , Bapak telah sampai ke sini", ujarnya dengan rasa sungkan.
"OO itu dik Rima, ngga apa-apa kok dik, hanya saja saya sedikit khawatir, takut terjadi apa-apa", jawabku lega.
"Iya sudah, besok kita kemari lagi untuk menghadiri acara syukuran peresmian sekolah ini", suamiku mengajak ku pulang.
"Yukk dik Rima, kapan-kapan main ke rumah yah", ucapku mengundangnya.
"Insya Allah Bu, jika ada waktu, kami juga ingin silaturahmi sekeluarga ke rumah Ibu dan Bapak,"jawabnya.
"Wassalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuuh....", kami pun berpamitan dan kembali ke mobil untuk segera pulang.
Tanpa terasa hari sudah kian sore, dan selama dalam perjalanan pulang, aku tak henti-hentinya bersyukur. Ternyata kesibukan mas Arman adalah untuk menolong sesamanya. Rasanya segala kejenuhanku sungguh tidak beralasan, waktu yang sempit sekali pun harus kusyukuri, karena Allah telah mengamanahi mas Arman untuk membantu sesamanya, walaupun akibatnya waktu untuk kami menjadi sedemikian sempit.
Alhamdulillah sungguh rihlah kali ini sangat menyejukkan hati, semua pertanyaan yang menjadi pikiran ku terjawab sudah.
Ya Allah, ampuni hambaMu ini..... Maafkan Mirna ya Mas... selama ini aku hanya mengeluh, tanpa mensyukuri apa yang ada, bahkan sempat berpikiran yang tidak-tidak.... Astaghfirullah....
Dan senja pun kian memerah ketika kami memasuki tol jakarta. Rasanya aku siap masuki babak kehidupan yang baru dengan suasana hati yang baru dan segar. Semoga Allah memudahkan perjalanan hidup kami di dunia sehingga kami tetap dapat di kumpulkan bersama di kehidupan akhirat nanti... Amin...
(UA)

0 comments: